Edmund bahkan menuduh pembunuhan itu berkaitan dengan kelompok simpatisan seorang jenderal, Tampubolon, yang tewas tak lama sebelumnya.
Drs. Mulyana W. Kusumah, kriminolog ternama kala itu, mengamini dugaan Edmund. “Pelaku bekerja dengan sangat rapi. Ada proses penekanan fisik dan mental sebelum korban dihabisi. Ini bukan pembunuhan biasa,” ujarnya.
Baca Juga:
Melalui Mediasi, Dugaan Pelanggaran Debt Collector Kredivo Berakhir Damai
Direktur RS PMI Bogor, Dr. Amir Islami, memperkuat dugaan itu. Menurutnya, bekas penganiayaan di leher Johny menunjukkan indikasi kuat kematian akibat patah tulang leher.
“Namun bisa juga karena tulang rusuk yang patah dan menusuk jantung,” katanya.
Tanda-Tanda Sebelum Kematian
Tiga bulan sebelum kematiannya, Johny berubah. Ia lebih sering pulang, lebih perhatian, dan lebih lembut. “Dia pernah bilang, jangan bikin pagar rumah terlalu tinggi. Anak bisa terpenjara,” kenang M. Sembiring. “Saya baru sadar, mungkin itu semacam pesan perpisahan.”
Baca Juga:
Terungkap! Modus Purnawirawan AKBP di Lampung Jadi Debt Collector Ilegal
Johny juga pernah menyesali masa lalunya. “Saya sudah terlalu banyak menguras air mata orangtua. Bukan seember, tapi berdrum-drum,” katanya suatu hari. “Belum cukup banyak yang saya balas pada mereka.”
Akhir yang Masih Gelap
Lebih dari tiga dekade berlalu, misteri kematian Johny Sembiring belum pernah benar-benar terpecahkan. Polisi kala itu menyebut kasusnya sebagai “penculikan berujung pembunuhan”, tanpa titik terang siapa dalangnya.
Yang pasti, Johny pergi dengan cara yang tak biasa: diculik di siang bolong, dibunuh tanpa jejak, dan dibungkam dengan keahlian militer.