“Dia (Tumiran) cerita, mereka diculik tujuh orang. Semuanya laki-laki, bertubuh tegap. Johny dibawa, dia dibuang di jalan,” tutur M. Sembiring dengan nada getir.
Namun belum sempat rasa lelah hilang, kabar paling memilukan datang malam itu juga.
Baca Juga:
Melalui Mediasi, Dugaan Pelanggaran Debt Collector Kredivo Berakhir Damai
Telepon dari Bogor lagi Johny ditemukan. Tapi bukan dalam keadaan hidup. Pukul 22.00, M. Sembiring sampai di RS PMI Bogor. Di kamar jenazah, ia berdiri terpaku. Di depannya, terbujur tubuh kakaknya masih memakai jas kotak-kotak, dengan tato mawar di dada kirinya.
“Saya langsung tahu itu Abang. Saya kabari Nia… dia langsung pingsan,” kenangnya.
Esok paginya, jenazah Johny dibawa ke Jakarta dan dimakamkan di TPU Pondok Kelapa, Jakarta Timur. Tak ada pernyataan panjang dari istrinya. “Saya mau bilang apa lagi… semua sudah terjadi,” katanya pelan.
Baca Juga:
Terungkap! Modus Purnawirawan AKBP di Lampung Jadi Debt Collector Ilegal
Masa Lalu Kelam Sang “Otak Encer”
Johny Sembiring bukan sosok asing di dunia hitam Jakarta. Namun masa kecilnya ternyata menyimpan luka yang tak kalah kelam.
"Bapak mendidik kami dengan tangan besi. Kepala Abang sering dibenturkan ke tembok,” cerita M. Sembiring.
Mungkin dari situlah sifat keras Johny terbentuk. Ia sering kabur dari sekolahnya di Pematang Siantar, padahal otaknya cemerlang.