“Dia menagih dengan cara cerdas. Tidak pernah maksa, tidak pakai preman,” kata Bernard, salah satu rekan kerjanya.
“Bahasanya diplomatis. Kalau pengutang benar-benar tak mampu, surat kuasanya dikembalikan.”
Baca Juga:
Melalui Mediasi, Dugaan Pelanggaran Debt Collector Kredivo Berakhir Damai
Namun profesi itulah yang akhirnya membawa Johny ke ujung hayat. Pada hari nahas itu, mobil BMW yang ditumpangi Johny dan Tumiran ditabrak dari belakang oleh sebuah Kijang di kawasan Tanah Abang.
Tujuh pria turun, mengikat keduanya, dan memaksa masuk ke mobil mereka. Tumiran dibuang hidup-hidup di Jonggol. Johny ditemukan tak bernyawa di Desa Carui, Bogor.
Misteri Luka dan Kematian
Majalah Sinar edisi 5 September 1994 menulis, Johny tewas akibat kekerasan benda tumpul. Ada memar di dada, tulang rusuk patah, dan bercak darah di tengkuk. “Bisa jadi dadanya dihantam popor senjata,” tulis laporan itu.
Baca Juga:
Terungkap! Modus Purnawirawan AKBP di Lampung Jadi Debt Collector Ilegal
Namun versi lain muncul dari Edmund Ronald Hutauruk, mantan preman yang mengenal Johny. Ia menolak teori luka dada.
“Warna biru di dada bisa karena tinta pulpen yang pecah,” katanya.
Tapi kemudian ia menambahkan sesuatu yang lebih mencengangkan: “Lehernya patah. Itu bukan kebetulan. Cara membunuh seperti itu hanya dilakukan orang-orang profesional.”