“Gurunya bilang, kalau Johny masuk sekolah tiga kali seminggu saja sudah bagus. Tapi Abang malah menantang, ‘Gimana kalau sekali saja?’
Akhirnya, sekolahnya hanya sampai kelas III SMP. Tahun 1952, ia merantau ke Jambi. Setahun kemudian ke Jakarta.
Baca Juga:
Melalui Mediasi, Dugaan Pelanggaran Debt Collector Kredivo Berakhir Damai
Hidupnya berputar cepat: menikah dengan Tin Kartini, dikaruniai seorang putri bernama Dian, lalu bercerai pada 1966.
Johny kembali menikah dengan Nia Murniati pada 1979 dan punya anak perempuan, Jenny Nurul. Namun di antara dua pernikahan itu, Johny sudah menjelma menjadi legenda jalanan.
“Dia pernah kabur dari Nusakambangan,” ujar sang adik. “LP Cipinang sudah kayak rumah kedua.”
Baca Juga:
Terungkap! Modus Purnawirawan AKBP di Lampung Jadi Debt Collector Ilegal
Meski begitu, di balik cap kriminal, Johny dikenal berwawasan luas. Ia menguasai bahasa Inggris dan Belanda, bahkan sempat ikut sekolah setara SMA di penjara.
Dari Preman ke Profesional
Setelah bebas dari segala urusan hukum pada awal 1980-an, Johny mencoba hidup bersih.
Ia bekerja di kantor pengacara, menulis pengalamannya di Harian Prioritas, dan mendirikan firma bernama Saut Raja Johny Sembiring Associated sebuah lembaga jasa penagihan utang yang berbasis negosiasi hukum, bukan kekerasan.