Itulah yang membuat perjalanan hidup Mas Guruh memiliki tempat tersendiri. Ia tidak hanya dikenal karena siapa orang tuanya, tetapi karena apa yang dikerjakannya sepanjang hidup.
Ia membangun karya-karya seni, mendirikan Swara Maharddhika, melakukan berbagai eksperimen kebudayaan, memasuki dunia politik, menjalankan tugas sebagai anggota DPR RI selama beberapa periode, dan tetap berada dalam kehidupan kepartaian hingga akhir hidupnya.
Baca Juga:
Fraksi PDI Perjuangan Sumedang Nyatakan Sikap soal Dugaan Kekerasan Seksual dan Penganiayaan
Pada akhirnya, Mas Guruh adalah seorang seniman yang membawa kebudayaan ke dalam kehidupan politik, sekaligus seorang politisi yang tidak pernah benar-benar meninggalkan dunia seni. Di antara panggung pertunjukan dan ruang parlemen, ia menemukan bentuk pengabdiannya sendiri.
Kepergiannya menutup perjalanan seorang tokoh yang selama puluhan tahun mengabdikan dirinya melalui seni, kebudayaan, ajaran Bung Karno, dan perjuangan partai.
Mas Guruh Soekarnoputera telah pergi. Namun, perjalanan hidup dan karya-karyanya akan tetap menjadi bagian dari sejarah kebudayaan dan politik Indonesia, sekaligus menjadi warisan yang terus dikenang oleh mereka yang pernah menyaksikan, bekerja bersama, dan menikmati karya-karyanya.
Baca Juga:
Tak Tunggu Komando, PDIP Ngada Turun ke Tengah Bencana: Sambangi Warga, Salurkan Bantuan
Karena itulah tidak heran, Ibu Megawati Soekarnoputri memberikan perhatian yang begitu besar terhadap adik kandung yang begitu dicintainya.
PDI Perjuangan memberi penghormatan khusus dengan menyibarkan bendera PDI Perjuangan setengah tiang terhadap Pejuang Partai, Seniman Besar, dan sosok Marhaenis tersebut.
“Untukmu Indonesiaku” adalah getaran kontempleasi yang begitu dalam dan menggetarkan yang selalu diungkapkan oleh Mas Guruh. Selamat jalan Mas Guruh Soekarnoputra.