Pertemuan tersebut menjadi salah satu contoh bagaimana Mas Guruh berusaha membawa kekayaan musik tradisional Indonesia ke dalam bentuk ekspresi yang lebih modern.
Ia tidak melihat tradisi sebagai sesuatu yang harus dibekukan, tetapi sebagai sumber kreativitas yang dapat terus diperbaruhi makna, keindahan, dan rasa cintanya bagi Indonesia Raya.
Baca Juga:
Fraksi PDI Perjuangan Sumedang Nyatakan Sikap soal Dugaan Kekerasan Seksual dan Penganiayaan
Karena itu, Mas Guruh tidak hanya dapat dikenang sebagai seorang seniman yang menghasilkan karya, tetapi juga sebagai salah satu icon dalam gerak kebudayaan. Ia memiliki perhatian yang kuat terhadap persoalan identitas Indonesia.
Seni baginya bukan sekadar pertunjukan untuk menghibur, melainkan juga medium untuk menghidupkan kembali kesadaran terhadap kebudayaan sendiri.
Perjalanan tersebut kemudian membawanya memasuki dunia politik. Pada 1987, Mas Guruh bergabung dengan Partai Demokrasi Indonesia (PDI).
Baca Juga:
Tak Tunggu Komando, PDIP Ngada Turun ke Tengah Bencana: Sambangi Warga, Salurkan Bantuan
Sejak saat itu, kehidupan Mas Guruh berkembang dalam dua medan yang tetap berjalan beriringan: kebudayaan dan politik. Ia tidak meninggalkan dunia seni ketika memasuki politik.
Sebaliknya, pengalaman panjangnya sebagai seniman menjadi bagian dari cara pandangnya terhadap kehidupan kebangsaan.
Mas Guruh kemudian menjalankan tugas sebagai anggota DPR RI pada periode 1992–1997 dan kembali menjadi anggota DPR RI sejak 1999 hingga 2024.