Ia berusaha mempertemukan kekayaan tradisi Nusantara dengan bentuk-bentuk ekspresi modern. Dalam karya-karyanya, musik, tari, gerak, busana, tata panggung, dan berbagai unsur kebudayaan Indonesia dirangkai menjadi satu pertunjukan yang begitu berkarakter Indonesia.
Dalam dunia pendidikan, Mas Guruh juga memperlihatkan perjalanan pencarian yang panjang. Ia menempuh pendidikan dasar dan menengah di Perguruan Cikini, kemudian melanjutkan ke SMA Negeri 25 Jakarta pada 1967–1970.
Baca Juga:
Fraksi PDI Perjuangan Sumedang Nyatakan Sikap soal Dugaan Kekerasan Seksual dan Penganiayaan
Pada 1971, ia berangkat ke Belanda untuk mempelajari arkeologi di Universiteit van Amsterdam. Studi tersebut dijalaninya selama sekitar tiga tahun, meskipun tidak sampai diselesaikan.
Bertahun-tahun kemudian, Guruh kembali menempuh pendidikan tinggi di Indonesia. Ia memperoleh gelar Sarjana Administrasi Publik dari STIAMI pada 2008, kemudian menyelesaikan Magister Manajemen pada 2010 dengan konsentrasi Manajemen Sumber Daya Manusia dan Magister Sains pada 2012 dengan konsentrasi Administrasi Publik.
Namun, dunia seni tetap menjadi medan utama yang membentuk perjalanan hidupnya. Pada 27 Maret 1977, Guruh mendirikan Swara Maharddhika.
Baca Juga:
Tak Tunggu Komando, PDIP Ngada Turun ke Tengah Bencana: Sambangi Warga, Salurkan Bantuan
Melalui wadah ini, ia mengembangkan gagasan pertunjukan yang memadukan berbagai cabang seni dalam skala besar: Musik, tari, koreografi, kostum, tata panggung, dan unsur-unsur kebudayaan Nusantara ditempatkan dalam satu kesatuan artistik.
Swara Maharddhika kemudian menjadi bagian penting dari perjalanan seni pertunjukan Indonesia pada masanya.
Eksperimen Mas Guruh dalam musik juga menunjukkan keberaniannya untuk melampaui batas-batas genre. Melalui Guruh Gipsy, ia mempertemukan musik rock progresif dengan gamelan Bali.