Dalam perjalanan politiknya, ia tetap membawa latar belakang seorang seniman dan pencinta kebudayaan. Politik baginya menjadi ruang pengabdian yang berbeda, tetapi memiliki tujuan yang berkelindan dengan perhatian yang selama ini ia tunjukkan melalui karya-karyanya: Indonesia, kebudayaan, rakyat, dan kehidupan kebangsaan.
Dalam perjalanan politik tersebut, Guruh menempatkan dirinya dalam garis perjuangan yang berakar pada pemikiran ajaran Bung Karno.
Baca Juga:
Fraksi PDI Perjuangan Sumedang Nyatakan Sikap soal Dugaan Kekerasan Seksual dan Penganiayaan
Ajaran Bung Karno menjadi salah satu horizon yang memberi warna pada pandangan politiknya tentang rakyat Marhen, narasi pembebasan, dan politik kebangsaan.
Karena itu, perjalanan Mas Guruh sebagai politisi tidak dapat dilepaskan begitu saja dari perjalanan intelektual dan kebudayaannya.
Keterlibatannya dalam PDI kemudian berlanjut dalam PDI Perjuangan. Selama puluhan tahun, Mas Guruh menjalani kehidupan kepartaian sebagai kader sekaligus tokoh yang membawa latar belakang kesenian yang kuat.
Baca Juga:
Tak Tunggu Komando, PDIP Ngada Turun ke Tengah Bencana: Sambangi Warga, Salurkan Bantuan
Salah satu jejak yang mempertemukan dunia seni dan politik tersebut adalah keterlibatannya sebagai pencipta Mars PDI Perjuangan. Di sini, musik yang sejak muda menjadi bahasa ekspresinya menemukan ruang lain dalam kehidupan politik dan kepartaian.
Perjalanan Mas Guruh memperlihatkan bahwa seni dan politik dalam dirinya bukanlah dua dunia yang saling meniadakan. Keduanya justru bertemu dalam satu gagasan tentang pengabdian.
Seni memberinya bahasa untuk mengekspresikan kecintaannya kepada Indonesia, sementara politik menjadi ruang untuk menjalankan pengabdian secara lebih langsung dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.