KARING.METROJAKARTANEWS.ID, Sidikalang - Anggota Komisi III DPR RI Hinca Panjaitan memaparkan penggunaan angka XIII dibelakang namanya.
Dilihat Metrojakartanews.id, berikut penjelasan Hinca diunggah di laman facebooknya.
Baca Juga:
Hinca Panjaitan Turun Tangan, Kasus Lima Lembu Mati di Kebun Dolok Ilir Diminta Diproses Tuntas
Bagi yang mengenal saya, mungkin sesekali pernah berpikir dan ingin bertanya, mengapa ada nomor XIII di belakang marga saya?
Pernah seorang pegawai di DPR RI mengira saya salah menulis. Ia kemudian menghapus angka itu tanpa maksud yang buruk, menyangka saya keliru memasukkan angka Romawi XIII ke kolom nama. Saya minta ia menuliskannya kembali. Ia heran, tetapi akhirnya menurut.
Saya katakan singkat padanya sambil bercanda, “Kalau angka itu hilang, saya jadi orang pertama. Padahal saya cuma penerus.” Ia mengangguk seakan mengerti, walau saya ragu ia benar-benar menangkap maksudnya.
Baca Juga:
Komjen Suyudi Ario Seto Jabat Kapolri, Hinca Panjaitan: Selamat Bertugas
Bagi kami orang Batak, dan khususnya saya, angka itu adalah bentuk lain dari rasa terima kasih. Karena saya berpikir, jika kehidupan ini adalah sebuah sungai, maka saya keliru selama ini mengira diri saya mata airnya. Saya bukan hulu. Saya cuma satu ruas arus di tengah, yang menerima air dari kelokan-kelokan jauh di belakang, dari nama-nama yang tak pernah saya jenguk, lalu meneruskannya ke muara yang belum saya lihat.
Dan seperti sungai, ia toh akan bermuara juga ke laut pada akhirnya. Tiap nama yang saya tulis dengan angka di ujungnya sedang berjalan menuju satu tempat yang sama, tempat segala sungai kehilangan namanya dan menuju lautan luas. Saya tahu bahwa kelak di laut, semua air sama. Tak ada lagi hulu, tak ada lagi hilir.
Namun bukan berarti perjalanan itu sia-sia. Sungai tidak mengalir supaya dikenang oleh laut. Ia mengalir karena begitulah caranya menghidupi tanah yang dilewatinya. Sawah di kiri kanannya menghijau bukan karena airnya abadi, melainkan karena ia sempat lewat, lalu merelakan diri pergi. Umur sebuah nama pun begitu, tidak diminta kekal, hanya diminta mengalir sebaik-baiknya selama masih berupa sungai.
Saya tidak berharap dikenang seratus tahun lagi. Saya cuma ingin, selama nama ini masih di tangan saya, ada yang menjadi lebih baik karena saya sempat lewat. Sesudah itu biarlah ia menghilang dengan tenang ke muara, seperti sungai yang tak pernah menoleh ke belakang untuk menghitung sawah mana saja yang telah ia hijaukan.
[Redaktur: Fernando]